•10:05 PM


“Tak adil rasanya Allah berikan semua ini untukku”. Mungkin itulah sepenggal kalimat yang pernah terlintas dalam benaknya, sebuah rangkaian kata dari hati seorang wanita yang mengharapkan kasih sayang seorang suami dalam hidupnya yang telah lama dinantikannya.

Tata, nama wanita itu. Anak pertama dari tiga bersaudara, dua perempuan dan satu laki-laki. Ia hidup dalam kesederhanaan tanpa hadirnya seorang ibu, karena telah terlebih dahulu menghadap Allahu Robbul ‘Izzati saat usianya masih muda, seorang ibu yang seharusnya sanggup memeluknya kala duka dan membelainya kala tangis berderai. Hanya belai kasih sayang dari tangan kasar seorang ayahlah yang ia dapatkan. Seorang ayah yang tunduk juga akan kerlingan mata wanita lain, yang akhirnya menjadi ibu tirinya.

Tetes air mata dalam kerasnya ujian hidup menjadikannya kuat dibalik lemahnya takdir sebagai seorang wanita. Di usianya yang telah dewasa, adik lelakinya mengalami sakit parah sekian lamanya hingga harus terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur. Sedangkan adik perempuannya telah menjadi kafir lantaran menikah dengan seorang laki-laki yang kafir pula. Dan ibu tiri yang dinikahi ayahnya juga tak seperti yang diharapkan, egois dan hampir tak pernah memikirkan nasib diri dan adik-adiknya. Hancurlah hatinya. Hanya tangis sayat hati seorang wanitalah yang bisa ia rasakan, meskipun harus dipendamnya tangis itu dalam-dalam.

Besar keinginan Tata untuk segera menikah, berharap ada pundak tempatnya tuk bersandar sekedar berbagi suka dan duka. Tapi apa daya, Allah belum menghendakinya. Kegagalan demi kegagalan dalam menjalin hubungan, membuatnya harus kalah di tangan takdir, bahwa jodoh akan berpihak di waktu yang tidak akan pernah diketahuinya.

Empat puluh tahun sudah usianya, tapi belum ada satupun lelaki yang berkenan meminangnya. Beragam usaha telah ia lakukan demi tercapainya harapan tuk menjadi wanita sejati, menjadi istri yang sholihah dan menjadi ibu yang bijak bagi anak-anaknya kelak. Tapi manusia hanya wajib berusaha, Allahlah yang menentukan.

Berbagai keresahan menjadi sahabat dalam hidupnya kini. Rasa sakit di kepala sebagai akibat dari akumulasi keresahannya yang memuncak menjadi momok yang sangat menyiksanya, belum lagi rasa mual dan muntah setiap kali tamu bulanan menghampirinya. Namun ia bukanlah wanita bodoh yang hanya berdiam diri saat sakit menyiksa.

Seperti halnya mencari jodoh, beragam usaha pun ia lakukan demi kesembuhan sakit yang menyiksanya selama ini. Tapi sayang, beragam usaha yang ia lakukan, beragam kata menyerah pula yang ia dapatkan. Berbagai dokter telah ia datangi, berbagai tes juga ia ikuti, tapi tak satupun jenis penyakit yang dapat didiagnosis untuknya. Dokter menyerah dan hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa penyakitnya ini mungkin akibat stress yang berkepanjangan, sehingga solusinya adalah menikah sebagai peredam sakitnya. Semakin bertambah sedihlah ia akan apa yang dialaminya, harus dicari kemana jodoh kalau memang itu adalah peredam sakit yang menyiksanya selama ini, mengingat ia hampir putus asa dalam mencari jodoh, pasangan jiwanya, padahal ia juga harus mengurus adik lelakinya yang belum kunjung sembuh juga untuk sekian lamanya.

Dalam peliknya hidup yang ia jalani, ia berkeluh kesah pada sahabatnya lalu berkatalah sahabatnya,

“Ta, tulang rusuk darinya kamu berasal sesungguhnya ada di dekatmu, ia tak jauh-jauh dari hidupmu. Menangislah kamu di sepertiga malam terakhir, mohon Allah berkenan bukakan pintu rahmatNya untukmu.

Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Tinggi, tapi ia tak bisa didekati dengan tinggi hati. Merendahlah, sebagaimana rendahnya kita di hadapanNya. BagiNya adalah sangat mudah apa yang dianggap sulit oleh manusia, dan Dia bisa membuat sulit apa yang dianggap mudah oleh manusia. Dia bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Bisa menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup. Dan bisa merubah malam menjadi siang serta merubah siang menjadi malam. Dia menciptakanmu dari tiada menjadi ada dan menjadikanmu tiada setelah kamu ada.

Teramat mudahlah bagiNya mendatangkan jodoh yang jauh menjadi dekat dan membuat jodoh yang dekat menjadi jauh. Hidupmu ada dalam genggamanNya, dan hidup jodohmu pun ada dalam kekuasaanNya. Dialah pemegang hati manusia, pemegang hatimu dan hatinya. Mintalah agar hatimu dipertemukan dengan hatinya dalam naungan Hati Allah agar hati kalian bersatu dalam cintaNya.

Sesungguhnya Allah sangat dekat, bahkan jauh lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Dia Pengabul segala doa dan Penjawab segala harap. Dekati Allah, maka Dia akan mendekatimu. Satu langkah kamu mendekat, maka 1000 langkah Dia akan berlari mendekatimu. Karena Dialah Allah Zat Yang Maha Dekat untuk hamba-hambaNya yang berkenan mendekat padaNya.

Kalau kamu merasa Allah tak adil padamu, berpikirlah sejenak akankah Allah yang tak adil ataukah kamu yang tak adil padaNya? Allah dengan sifatNya yang Maha Adil telah berikan keadilanNya kepadamu berupa nikmat tak terkira dalam hidupmu, tapi sudahkah kamu bersyukur padaNya akan segala nikmat-nikmatNya? Kini kembalilah pada Allah, menangis dan tunduk sujudlah padaNya, memohon agar belas kasihNya Dia hadirkan untukmu. Untuk hadirnya jodohmu dan untuk kesembuhanmu maupun adikmu.”

November 2010,



Do’a Cinta Sang Pengantin

Ya Allah,

Andai Kau berkenan, limpahkan kepada kami cinta

yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khodijah Al-Kubro,

yang Kau jadikan mata air kasih sayang Imam Ali & Fatimah Az-Zahro

yang Kau jadikan penghias keluarga NabiMu yang suci

Ya Allah,

Andai semua itu tak layak bagi kami,

Maka cukupkanlah bagi kami dengan RidhoMu

Jadikanlah kami sebagai suami istri yang saling mencintai di kala dekat,

saling menjaga kehormatan di kala jauh.

Saling menghibur di kala duka,

Dan saling mengingatkan di kala bahagia,

saling mendoakan dalam kebahagiaan dan ketaqwaan,

dan saling menyempurnakan dalam beribadah kepadaMu.

Ya Allah,

Sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah kepadaMu

dan bukti ikutnya cinta kami kepada sunnah keluarga RasulMu. Amiiin…

Tata – Adi

Beberapa bait puisi di atas dalam selembar undangan pernikahan menjadi bukti jawaban Allah atas pinta tangis hambaNya, Tata. Tata di usianya yang ke-40, didekatkan jodohnya oleh Allah, yaitu Adi, seorang lelaki bujang yang berusia di atasnya beberapa tahun. Seorang jodoh yang tak pernah disangkanya akan hadir menemani sisa hidupnya, ternyata Allah hadirkan dan Allah jawab doa-doanya. Sedangkan adiknya, karena kekuasaan Allah pulalah ia bisa sembuh setelah sakit yang menderanya sekian lama. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.



tgk!!subhanallah..byk pengajaran dan hikmah yg bleh kita dapat dgn berkat kesabaran,,Allah Maha Mendengar..Dia Maha Pengasih..setiap yg Dia berikan ada hikmah nya yg tersendiri,cuma kita je yg xtaw ape kesudahan yg sebenar drNya


This entry was posted on 10:05 PM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.